Tampilkan postingan dengan label KRITIK SOSIAL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KRITIK SOSIAL. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Desember 2020

Sebuah Pengingat Hidup

Dunia dan Akhirat Telah didesain sempurna dari Sang Maha untuk umatnya, tanpa ada keraguan di dalam nya jika diyakini secara mendetail, tak ada satupun unsur dicipta dengan sia-sia kecuali pribadilah yang menyia-nyiakannya !!

Seperjalanan hidup saya yang baru dua dekade lebih saya merasakan jutaan bahkan ribuan nikmat yang telah dititiskan kepada saya dan atas nikmat tersebut syukur dipanjatkan sebesar-besarnya kepada Sang Maha perlu untuk di renungkan bahwa saya hanyalah se onggok tanah yang ditiupkan ruh olehnya !! 

Rabu, 17 Mei 2017

Saya sangat terkejut penuh haru ketika melihat goresan pena seorang gadis belia SMA yang ia kicaukan di sosial media facebook pesannya menyiratkan gejolak bangsa zaman ini. Diharapkan agar pihak pihak penguasa diseluruh nusantara kini akan peka terhadap tulisan ini.

WARISAN
Kebetulan saya lahir di Indonesia dari pasangan muslim, maka saya beragama Islam. Seandainya saja saya lahir di Swedia atau Israel dari keluarga Kristen atau Yahudi, apakah ada jaminan bahwa hari ini saya memeluk Islam sebagai agama saya? Tidak.
Saya tidak bisa memilih dari mana saya akan lahir dan di mana saya akan tinggal setelah dilahirkan.
Kewarganegaraan saya warisan, nama saya warisan, dan agama saya juga warisan.
Untungnya, saya belum pernah bersitegang dengan orang-orang yang memiliki warisan berbeda-beda karena saya tahu bahwa mereka juga tidak bisa memilih apa yang akan mereka terima sebagai warisan dari orangtua dan negara.
.
Setelah beberapa menit kita lahir, lingkungan menentukan agama, ras, suku, dan kebangsaan kita. Setelah itu, kita membela sampai mati segala hal yang bahkan tidak pernah kita putuskan sendiri.
.
Sejak masih bayi saya didoktrin bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Saya mengasihani mereka yang bukan muslim, sebab mereka kafir dan matinya masuk neraka.
Ternyata,
Teman saya yang Kristen juga punya anggapan yang sama terhadap agamanya. Mereka mengasihani orang yang tidak mengimani Yesus sebagai Tuhan, karena orang-orang ini akan masuk neraka, begitulah ajaran agama mereka berkata.
Maka,
Bayangkan jika kita tak henti menarik satu sama lainnya agar berpindah agama, bayangkan jika masing-masing umat agama tak henti saling beradu superioritas seperti itu, padahal tak akan ada titik temu.
Jalaluddin Rumi mengatakan, "Kebenaran adalah selembar cermin di tangan Tuhan; jatuh
dan pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu,
memperhatikannya, lalu berpikir telah memiliki kebenaran secara utuh."
.
Salah satu karakteristik umat beragama memang saling mengklaim kebenaran agamanya. Mereka juga tidak butuh pembuktian, namanya saja "iman".
Manusia memang berhak menyampaikan ayat-ayat Tuhan, tapi jangan sesekali coba menjadi Tuhan. Usah melabeli orang masuk surga atau neraka sebab kita pun masih menghamba.
.
Latar belakang dari semua perselisihan adalah karena masing-masing warisan mengklaim, "Golonganku adalah yang terbaik karena Tuhan sendiri yang mengatakannya".
Lantas, pertanyaan saya adalah kalau bukan Tuhan, siapa lagi yang menciptakan para Muslim, Yahudi, Nasrani, Buddha, Hindu, bahkan ateis dan memelihara mereka semua sampai hari ini?
.
Tidak ada yang meragukan kekuasaan Tuhan. Jika Dia mau, Dia bisa saja menjadikan kita semua sama. Serupa. Seagama. Sebangsa.
Tapi tidak, kan?
.
Apakah jika suatu negara dihuni oleh rakyat dengan agama yang sama, hal itu akan menjamin kerukunan? Tidak!
Nyatanya, beberapa negara masih rusuh juga padahal agama rakyatnya sama.
Sebab, jangan heran ketika sentimen mayoritas vs. minoritas masih berkuasa, maka sisi kemanusiaan kita mendadak hilang entah kemana.
.
Bayangkan juga seandainya masing-masing agama menuntut agar kitab sucinya digunakan sebagai dasar negara. Maka, tinggal tunggu saja kehancuran Indonesia kita.
.
Karena itulah yang digunakan negara dalam mengambil kebijakan dalam bidang politik, hukum, atau kemanusiaan bukanlah Alquran, Injil, Tripitaka, Weda, atau kitab suci sebuah agama, melainkan Pancasila, Undang-Undang Dasar '45, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Dalam perspektif Pancasila, setiap pemeluk agama bebas meyakini dan menjalankan ajaran agamanya, tapi mereka tak berhak memaksakan sudut pandang dan ajaran agamanya untuk ditempatkan sebagai tolak ukur penilaian terhadap pemeluk agama lain. Hanya karena merasa paling benar, umat agama A tidak berhak mengintervensi kebijakan suatu negara yang terdiri dari bermacam keyakinan.
.
Suatu hari di masa depan, kita akan menceritakan pada anak cucu kita betapa negara ini nyaris tercerai berai bukan karena bom, senjata, peluru, atau rudal, tapi karena orang-orangnya saling mengunggulkan bahkan meributkan warisan masing-masing di media sosial.
Ketika negara lain sudah pergi ke bulan atau merancang teknologi yang memajukan peradaban, kita masih sibuk meributkan soal warisan.
.
Kita tidak harus berpikiran sama, tapi marilah kita sama-sama berpikir.
© Afi Nihaya Faradisa(MN)

Rabu, 15 Februari 2017

KICAU UNTUK PENGUASA NEGRI

"KICAU UNTUK PENGUASA NEGRI"


Hidup dalam masa rezim baru yang motonya kerja,kerja, dan kerja ...
Rezim dimana yang katanya kesejahtraan adalah hak preogratif bagi rakyat jelata tapi tidak nyatanya ...
Kemana kicau yang telah keluar dari paruhnya dengan berbagai janji tanpa realisasi ...
Kami terus kesusahan bahkan untuk mencari sepiring nasi demi energi ...
Negri ini belakangan lebih indah dari pentas pewayangan, lakon yang tumpang tindih tanpa kejelasan para prajurit saja ditarik ulur dipermainkan bagai squad dibangku cadangan apalagi daya para rakyat jelata untuk melawan sedang lapar yang melanda ...
Sungguh naas nasib penduduk negri dengan kebijakan yang terus berganti 
Bagai kelinci yang senang berlari 
Kesana kesini namun tak pasti
Wahai kalian para penguasa negri
Jiwa dan raga kami tak sanggup lagi
Hidup dinegri yang katanya merdeka ini 
Kami lebih memilih mati 
Daripada hidup terus di iming-imingi 
Mana lapangan kerja yang telah engkau janji
Sudah habis dikuasai para pelancong penjilat amunisi 
Tak ada guna usaha kami jika bertanya kalian terus berdali 
Seakan hidup kami sedang pijaki bumi melainkan api ...


DAMN ID
En Mohammad 
16 februari Abad 21